Beranda > Sejarah Nasional > Islamisasi di Jawa abad 13-16 M

Islamisasi di Jawa abad 13-16 M

Masuknya Islam di Jawa abad XIII – XVI

Agama Islam pertama kali muncul di tanah Arab sekitar pada awal abad ke-VII. Agama Islam ini diperkenalkan oleh seorang pemuda dari keturunan suku Quraisy yaitu Muhammad. Beliau pertama kali mengajarkan agama Islam kepada bangsa Arab di kota Mekkah. Dakwah yang dilakukan di Mekah sendiri banyak mengalami rintangan dan ancaman yang dilakukan oleh suku Quraisy. Akibat islam tidak diterima dengan baik di mekkah maka Muhammad kemudian hijrah ke kota Madinah.
Pada awal penyebaran di Madinah, pengaruh dan kekuasaan islam terus berkembang karena di kota ini Muhammad dan agama islam dapat diterima oleh masyarakat Madinah. Sepeninggal Muhammad kekuasaan dan penyebaran islam dilanjutkan oleh sahabat-sahabat beliau dan para penguasa dinasti. Sabahat-sahabat tersebut kemudian lebih dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin yang dilanjutkan oleh Khalifah-khalifah. Pada masa inilah islam tumbuh dan berkembang sangat pesat yang perkembangannya tidak hanya di kawasan arab saja namun berkembang ke seluruh wilayah di afrika, asia dan bahkan ke eropa.
Penyebaran islam itu sendiri akhirnya sampai ke daerah Gujarat (India), dan hingga ke Asia Tenggara termasuk ke wilayah Indonesia. Perkembangan masukknya islam di Indonesia ini sendiri berawal dari masyarakat Indonesia yang berada di daerah pesisir pantai sumatera. Dari sinilah, agama dan kebudayaan islam dikembangkan ke daerah-daerah pedalaman oleh para ulama. Usaha ini ditujukan kepada kalangan Istana dan kaum Bangsawan. Selanjutnya agama islam terus meluas ke daerah Jawa dan ke wilayah Indonesia daerah timur.
Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan di Indonesia, agama islam diperkirakan masuk ke Indonesia sekitar pada abad ke-VII. Khuusus untuk di pulau jawa diperkirakan sudah masuk pada abad ke-XI, yaitu pada masa kekuasaan kerajaan airlangga.
Pertumbuhan masyarakat islam di sekitar Majapahit dan terutama di beberapa kota pelabuhan, erat pula hubungannya dengan perkembangan pelayaran dan politik. Proses islamisasi di Jawa sendiri mencapai bentuk kekuasaan politik ketika munculnya Demak sebagai kerajaan islam yang menguasai pulau Jawa.Dari titik sinilah pengaruh islam sangat dapat terlihat dengan nyata di daerah pesisir maupun pedalaman pulau Jawa. Tidak sedikit pemeluk agama islam ini setelah terjadi pengalihan kekuasaan Hindu ke tangan kekuasaan islam.
Sedikit yang menjadi permsalahan yaitu mengapa pengaruh islam dengan begitu mudahnya masuk ke masyarakat Jawa padahal pada saat itu sudah terdapat agama dan pengaruh Hindu sebelum kedatangan islam di Jawa.

Pendekatan masalah
Setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, dan berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa yaitu kerajaan Demak, islam semakin kuat meluaskan pengaruhnya di pulau Jawa. Pendidikan islam semakin maju dan cukup pantai pesisir pulau Jawa. Di Bintoro (1476) dibentuk organisasi Bayankare islah untuk mempergiat usaha pendidikan dan pengajaran islam. Adanya kebijaksanaan para raja islam, seperti kebijaksanaan kebudayaan yang berdasarkan Indonesia asli dan Hindu yang disesuaikan dengan kebudayaan islam seperti Gerebeg Poso dan Gerebeg Mulud mecipta.
Situasi politik di kerajaan-kerajaan hindu mengalami kekacauan dan kelemahan akibat perebutan kekuasaan, maka islam dijadikan alat politik bagi golongan bangsawan yang menghendaki kekuasaan tersebut. Oleh karena itu perkembangan islam dapat menggeser pengaruh hindu di Jawa. Proses ini dipercepat oleh kelemahan-kelemaahan yang di alami kerajaan Majapahit. Selain itu adanya perbutan kekuasaan di kalangan keluarga raja-raja hindu turut mempercepat tumbuhnya pengaruh Islam di Jawa.
Ketika Majapahit berkuasa, islam telah ada dan berasimilasi dengan masyarakat Hindu pada saat itu. Sehingga dalam proses tebentuknya islam di Jawa tidak dengan muntlak langsung menjadi kekuasaan yang besar. Karena jauh sebelum islam kuat, di Jawa sendiri sudah ada masyarakat islam, terutama di Jawa Timur.
Laksono (1985 : 18), menduga bahwa ada proses berpikir orang Jawa yang bertentangan dengan proses berpikir sistem kasta, sehingga sistem itu tidak bisa tumbuh di Jawa. Hal ini sebagai akibat kebiasaan orang Jawa menyaring unsur budaya asing yang masuk. Hal ini sangat berbeda dengan kedatangan islam, islam oleh masyarakat Jawa mudah diterima karena di dalam islam tidak ada istilah system kasta. Di sisi lain, penyebaran islam dilakukan secara damai, maksudnya islam tidak memaksakan masyarakat untuk memeluk islam.
Kepemimpinan dengan cara demokrasi yaitu mengambil keputusan dengan musyawarah mufakat, secara aktif memberi saran dan petunjuk kepada anak buahnya. (Soekanto, 2000 : 297). Hal inilah yang dilakukan oleh para pembesar islam dalam menjalankan politik pemerintahannya.
Menurut orang Jawa sikap tunduk yang benar pada seorang raja bukan karena kalah perang atau takut, melainkan merupakan tanggapan terhadap keadilan dan kebiasaan seorang raja. (Laksono, 1985 : 49)
Hasan Shadily (1993 : 90), mengatakan bahwa islam tidak mengenal hierarki atau kasta, dan di dalam ajaran islam itu sendiri tidak ada yang namanya sistem kasta. Di dalam system pemerintahan islam pada waktu itu hanya terdapat yang namanya kedudukan dan peranan.
Kasta sebagai golongan terbentuk karena adnya perbedaan kedudukan. Kasta ini bersifat tertutup bagi masyarakat dalam mobilitas social. Hal semacam inilah yang menimbulkan kesenjangan social di antara masing-masing kasta. (Hasan Shadily)
Di samping itu para pembesar islam di Jawa menerapkan ajaran-ajaran islam sebagaimana yang telah diajarkan oleh Muhammad. Seperti yang telah dikatakan oleh Hasan Shadily, demokrasi mengejar persamaan hak terhadap hukum, persamaan dalam politik, dan ekonomi yang bukan berkehendak untuk melenyapkan sifat manusia.
Kedatangan islam dan cara penyebaran kepada golongan bangsawan dan rakyat umumnya adalah dengan cara damai, melalui perkawinan, perdagangan, dakwah, pendidikan dan kesenian oleh para pemuka-pemuka pada masa itu.
Di bidang politik misalnya pengarauh kekuasan seorang raja besar peranaannya dalam proses islamisasi. Menyebarakan islam selain untuk perluasan wilayah kerajaan.
Di bidang keseniaan, dengan mengadakan seni pertunjukan gamelan, wayang sebagai alat dakwah keagamaan. Misalnya melalui cerita wayang , par ulama islam menyisipkan ajaran agama islam.
Kondisi inilah yang menyebabkan islam tumbuh dan berkembang pesat di Jawa. Sihingga pengaruh islam begitu mudahnya masuk ke masyarakat baik masyarakat pesisir maupun masyarakat pedalaman.

Kategori:Sejarah Nasional
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: