Beranda > Sejarah Eropa Timur > DINASTI RURIK DAN EROPANISASI RUSIA

DINASTI RURIK DAN EROPANISASI RUSIA

DINASTI RURIK

Dinasti Rurik merupakan dinasti pertama di Rusia yang berperan sebagai peletak dasar kekuasaan Rusia dengan model kerajaan. Dinasti ini berakhir pada masa raja Feodor I yang berkuasa dari tahun 1557–1598. Sepeninggal raja tersebut lenyaplah dinasti Rurik karena ia tidak memiliki keturunan sebagai peneerusnya.

Terbentuknya dinasti Rurik berawal pada pertengahan abad ke IX, bangsa Slavia yang berdiam di daerah Novgorod meminta perlindungan kepada Rurik (bangsawan Norman), karena merasa terancam oleh suku bangsa norman lainnya yang masih liar. Kedatangan Rurik dan pengikutnya pada tahun 862 M bukan hanya sebagai pelindung mereka melainkan untuk menguasainya. Sejak saat itu, muncullah kerajaan pertama di wilayah Rusia yang menguasai daerah sekitar Novgorod dan Kiev.

Karena letaknya yang strategis antara Eropa dan Asia, maka Kiev mengadakan perdagangan langsung dengan Byzantium. Kepangeranan Ryurik hanya berjalan sampai ia meninggal tahun 879 M. Rurik tidak menentukan siapa yang akan mewarisi tahtanya. Namun tahtanya diambil oleh Pangeran Oleg dan menguasai Novgorod.

Pemerintahan Pangeran Oleg menyerang penguasa Kiev yaitu Askold dan Dir, dan menguasai daerah Kiev. Pangeran Oleg selanjutnya mempersatukan Novgorod dan Kiev. Pangeran Oleg akhirnya wafat tahun 911 M. Namun sebelum meninggal, ada beberapa tindakan yang ditempuh Oleg sebelum menyerahkan kekuasaannya kepada Igor (anak Rurik), antara lain:

  • Menyerang dan mengadakan perjanjian dengan Bizantium, sehingga orang rusia diperkenankan berdagang di sekitar Konstantinopel.
  • Mengadakan konsolidasi kerajaan, yaitu membagi wilayah kerajaan ke dalam wilayah-wilayah kecil yang dikepalai oleh seorang raja. Rakyat di daerah kerajaan kecil tetap di bawah kekuasaan pemerintahan pusat. Kepala Negara pusat disebut Tsar (maharaja).

Pergantian Pangeran agung berlanjut setelah pangeran Oleg yaitu Pangeran Igor Stary yang berkuasa (912-945 M), lalu Pangeran Putri Olga (945-957 M), kemudian Pangeran Svyatoslav (957-972M), dan Pangeran Yaropolk yang memerintah (972-980 M).

Tindakan terpenting Svyatoslav pada akhir pemerintahannya adalah menciptakan system penggantian tahta yang didasarkan pada penggeseran kedudukan raja apabila ada raja yang lebih tua di antara mereka yang meninggal dunia. Svyatoslav telah menunjuk anak tertuanya sebagai pengganti Tsar. System penggantian tahta ini membawa akibat buruk bagi perkembangan kerajaan Rusia, karena selalu terjadi perang saudara apabila Tsar meninggal dunia.

Perubahan yang mendasar berupa sistem kepercayaan terjadi pada pemerintahan Vladimir I yang berkuasa (980-1015 M). Karena dekatnya hubungan dengan kekaisaran Romawi Timur yaitu Byzantium yang menganut Gereja Ortodoks Yunani, yang sebelumnya Kristen Ortodoks dikenalkan pada masa Putri Olga (945-957 M). Kini mulai mendapat perhatian setelah Vladimir yang menginginkan rakyatnya hidup berkecukupan. Ia melihat bahwa ia dapat melakukannya dengan menghimpun rakyatnya dalam satu agama, dalam pertimbangannya ia memilih Gereja Ortodoks Yunani (Kekaisaran Romawi Timur).

Karena keindahannya itulah Vladimir memilih aliran Ortodoks. Kristen Ortodoks adalah agama tetangga kerajaannya, Kekaisaran Bizantium, yang paling kuat, terkaya dan sangat berbudaya. Ketika ia ditawari Anna, saudara perempuan Basilius, kaisar Byzantium, untuk menjadi istrinya, Vladimir menerima. Ia kemudian menggabungkan kedudukannya sendiri dengan tetangganya yaitu Byzantium. Pada tahun 988 M Vladimir memerintahkan agar rakyatnya memeluk agama Kristen yang mana hal ini membawa Rus Kiev ke pergaulan internasional.
Sehingga gaya arsitektur banyak dipengaruhi oleh Byzantium., juga ide-ide dari Byzantium yang menyatakan bahwa seorang pangeran memerintah atas kekuasaan Tuhan sehingga tidak dapat diganggu oleh siapapun. Berkat Siril dan Metodius, Rusia memiliki liturginya sendiri dalam bahasanya sendiri — Slavonik. Di gereja-gereja indah yang dibangun Vladimir dan penerusnya, rakyat dapat mengikuti liturgi indah dalam bahasa mereka sendiri.

Pertobatan Vladimir membawa akibat efektif atas gaya hidupnya. Ketika ia memperistri Anna, ia menceraikan kelima orang istri lamanya. Ia memusnahkan semua patung-patung, melindungi kaum miskin, mendirikan sekolah-sekolah dan gereja-gereja, serta hidup damai dengan negara-negara tetangga. Menjelang ajalnya, is membagi-bagikan semua miliknya kepada orang-orang miskin. Gereja Yunani akhirnya mengangkat dia sebagai santo.

Dalam pemerintahnnya Vladimir I membagi wilayah seluruh negeri dalam Volost (satuan teriotori administratif) yang terdiri dari daerah Kepangeranan dan daerah kepemilikan Boyar (bangsawan). Volost dipimpin oleh Volostitel yang bertanggungjawab pada pangeran agung atau kepada pangeran setempat.

Pangeran Vladimir I kemudian digantikan oleh Pangeran Yaroslav Mudry (1019-1054). Yarsolav banyak memberikan sentuhan budaya bagi perkembangan Kiev berupa mendirikan sekolah-sekolah, perpustakaan, serta mengundang ahli-ahli budayawan dari Eropa.

Kemunduran Kiev dikarenakan kuatnya kekuatan kelas militer yang dimiliki Knyaz Agung yang berpusat di Kiev. Mulai tidak tunduknya pangeran-pangeran kecil yang menguasai daerah-daerah dengan menolak memberi upeti dan pajaknya ke pusat. Artinya bahwa suku-suku bangsa yang ada tidak dapat disatukan terlebih suku bangsa barbar Pecheneg yang selalu menganggu ketentraman pemerintahan Kiev. Juga datangnya bangsa barbar Mongol (Tartar) yang berasal dari China tempat Jengis Khan yang memiliki kekaisaran yang sangat luas dan cucunya Batu Khan sedang mencari daerah baru untuk ditaklukan.

Pada tahun 1237 tentara berkuda dipimpin Batu Khan menyerbu kerajaan kecil Rusia, membakar kota serta membunuh penduduknya. Mereka merampas Kiev dan bergerak ke Barat sampai hampir mendekati Wina, lalu kembali pulang dan mendirikan markas besar di hilir Sungai Wolga. Dari tempat ini suku bangsa Mongol menguasai Rusia hampir selam 250 tahun. Bangsa mongol mengambil alih kekuasaan dan memerintahkan kepada pangeran-pangeran untuk membayar pajak yang berat, tunduk pada peraturan yang dikeluarkan, dan segala hal bersifat mutlak dan tegas. Untuk menjaga kekuasaannya bangsa Mongol menggunakan politik adu domba satu pangeran dengan pangeran lainnya. Hasilnya adalah bahwa beberapa pangeran Rusia meniru cara memerintah bangsa Mongol yang despotis dalam pemerintahan mereka sendiri.

Secara keseluruhan, kekuasaan bangsa Mongol merupakan bencana bagi Rusia. Bangsa Mongol tidak hanya membuang percuma daerah dan peradaban yang teah dimulai di Kiev, tetapi juga menambah keterpencilan Rusia dari Eropa. Tetapi ketika orang Eropa memasuki zaman Renaissance ilmu pengetahuan dan budaya, bangsa Rusia kehilangan makna demokrasi yang telah berkembang di Kiev dulu. Termasuk Dean, kota tempat orang berkumpul di alun-alun untuk mengemukakan pendapat atas berbagai perkara yang terjadi di masyarakat.

Pada massa pemerintahan Basil I, bangsa Tatar kurang begitu berbahaya, bahkan sepeninggal Timur Lenk, kekuasaan bangsa Tatar terpecah-pecah ke dalam kerajaan-kerajaan kecil. Tiga pusat kekuasaan kerajaan itu terutama berpusat di Astrakan (Sarai), Kazan, dan di Krim.

Ketika Byzantium hancur oleh serangan bangsa Turki, Iwan III merasa mempunyai hak untuk mewarisi kerajaan tersebut, akibat perkawinannya dengan Sofia Palaeloga. Tidak lama kemudian Iwan III menyatakan dirinya sebagai ahli waris kekaisaran Byzantium. Tsar kemudian menerrapkan kembali upacara system pemerintahan yang absolute, yaitu Caesar opapisme (kekuasaan agama dan pemerintahan dipegang satu orang). Di smping motif agama, Rusia mempunyai tuntutan nasional atas daerah-daerah di sebelah barat sungai Dnyepr yang dahulu termasuk wilayah Kiev dan sekarang dikuasai Uni Lituania-Polandia. Factor inilah yang menyebabkan peperangan dan membawa akibat yang besar bagi Rusia.

Keadaan Rusia semakin kuat setelah Iwan IV (1535-1584) naik tahta, menggantikan Basil III (1505-1535). Tindakan yang dilakukan setelah menjadi Tsar ialah:

  1. Menyusun Zemsky Sobor, dewan perwakilan yang terdiri dari wakil-wakil gereja, pegawai pemerintah, pedagang, dan pengusaha.
  2. Memperluas daerah Rusia dan membebaskan tanah Rusia dari kekuasaan bangsa Tatar. Ini berhasil dengan menguasai Kazan, dan Astrakan yang menjadi salah satu pusat kekuasaan Tatar.
  3. Berusaha menjalin hubungan dengan Bangsa Eropa Barat lainnya terutama Inggris melalui penguasan perdagangan di Laut Timur. Rusia kemudian membentuk persekutuan dagang yang dikenal dengan nama Masovy Company.

Dalam perkembangannya, pemerintahan Iwan IV berubah menjadi terror. Ini terjadi setelah kematian istrinya, Anastasia Romanovna (1560) yang menurutnya sebagai akibat perbuatan jahat lawan politiknya. Dengan segera dibentuk Aprichnina, suatu pasukan pengawal pribadi Tsar yang bertugas untuk melenyapkan orang-orang yang dicurigai sebagai musuh Tsar. Akibatnya, banyak bangsawan (Boyar) yang dibunuh.

Setelah Iwan IV meninggal, kedudukan Tsar digantikan oleh Feodor (1584-1598), anaknya sendiri. Peristiwa penting yang terjadi pada masa pemerintahannya adalah kematian Dmitry (saudara Feodor) secara mendadak.  Kaum oposisi memanfaatkan kejadian itu dengan menuduh Boris yang memprakarsai pembunuhan tersebut. Persoalan ini bertambah rumit setelah Feodor meninggal, karena ia tidak memiliki keturunan yang secara tradisi dan turun-menurun dapat mewarisi tahtanya sebagai Tsar. Ddddalm penggantian tahta, Boris kemudian diangkat menjadi Tsar oleh Zemsky Zobor, walaupun mendapat pertentangan keras dari kaum Boyar. Maka sejak saat itu, berakhirlah dinasti Rurik yang telah berkuasa di Rusia selama ratusan tahun.

EROPANISASI RUSIA

Rusia yang memiliki perbedaan perkembangan sejarah dan unsur kebudayaan dengan Eropa Barat telah mempengaruhi hasil peradaban Rusia. Sejak lama Rusia yang berkiblat pada kebudayaan Katolik Yunani bertentangan dengan kebudayaan katolik Romawi. Unsur-unsur ini yang memisahkan Rusia dengan  Negara-negara Eropa Barat. Rusia jauh tertinggal dari Negara-negara Eropa Barat. Kondisi inilah yang mendorong Rusia untuk mengejar status yang sama dengan Negara-negara Eropa Barat.

Orientasi Rusia ke Barat sebenarnya telah dirintis pada masa pemerintahan Iwan IV yang telah berhasil mengalahkan bangsa Tatar. Akan tetapi hal ini masih tidak menyentuh pada tataran kebudayaannya. Baru pada masa Tsar Alexey I Michailevich (1645-1676) telah memahami peran penting hubungan dengan Dunia Barat. Banyak pelajar Kiev pergi ke Moskow dan membawa pengaruh terhadapa car berpikir sebagian lapisan atas masyarakat Rusia. Tsar mengundang kaum terpelajar Dunia Barat untuk memajukan Rusia. Ia mendatangkan opsir-opsir dari Jerman untuk melatih ketentaraan Rusia. Bertambahnya orang-orang Barat di Rusia telah mempropagandakan kebudayaan Barat sehingga kebudayaan Barat semakin luas di Rusia. Tsar mendirikan gedung kesenian, rumah sakit, dll.

Akibat pengaruh peradaban Barat, timbul perpecahan dalam Katolik Yunani. Nikon beranggapan bahwa kitab Injil yang diterjemahkan ke dalam bahasa Slavia penuh dengan kesalahan, oleh karena itu harus disesuaikan dengan aslinya. Pendapat ini ditentang oleh Awwakum.

Perbedaan pendapat antara Nikon dan Awwakum adalah, menurut Nikon kemurnian ajaran agama harus dicari dari sumbernya, yaitu Byzantium, sedangkan menurut Awwakum untuk mencari kemurnian ajaran agama harus dicari dari dalam negeri itu sendiri. Dalam pertentangan tersebut, rakyat lebih banyak mendukung Awwakum.

Pada tahun 1689 Peter memegang pemerintahan sendiri di Rusia setelah menindas pemberontakan pasukan Streltsy.  Peter segera mengadakan pembaharuan-pembaharuan dengan menerapkan budaya Barat.yang kadang kala dengan cara kekerasan. Salah satu caranya ialah melalui pendidikan. Upaya  pembaharuan ini menunjukkan hasil nyata, antara lain:

  1. birokrasi militer disusun dengan model Barat.
  2. larangan memelihara jenggot.
  3. berpakaian dengan meniru model Barat
  4. kalender Gregorian diterapkan

Peter berasumsi bahwa proses Eropanisasi ini akan berhasil apabila rusia dapat menguasai daerah-daerah yang memisahkan Rusia dengan Eropa Barat. Oleh karena itu, ia berusaha menguasai laut Timur yang menjadi pusat perdagangan dan pintu menuju Eropa Barat. Sehingga tidak peperangan kerap kali terjadi dengan Negara-negara Eropa lainnya, seperti Swedia, Austria, dan Polandia.

Usaha perombakan peradaban dari Peter ternyata tidak banyak membawa perubahan yang cukup berarti di Rusia Karena hanya mengubah cara berpikir dari golongan feodal dan tanpa disertai perubahan sikap dan tindakan.

Yang sangat mencolok dalam usaha-usaha pembaharuan Peter antara lain:

  1. sentralisasi pemerintahan, dengan mengurangi otonomi dan kekuasaan setempat yang dipegang Boyar.
  2. Reorganisasi Gereja, jabatan Patriach dihapus dan diganti oleh suatu badan (Synode Suci) yang terdiri dari uskup yang diketuai oleh Tsar.
  3. Didirikan Akademi Ilmu Pasti

Sepeninggal Peter Agung, perubahan penting hampir tidak ada. Eropanisasi masih berjalan terus terutama di sekitar pemerintahan pusat untuk menghadapi Prancis dan Turki.

Eropanisasi yang berkembang di Rusia ditafsirkan sebagai suatu upaya untuk hidup dengan model Barat, sehingga yang berkembang adalah kehidupan kaum Boyar yang hidup dengan gaya Barat. Perbedaan antara kaum yang menghendaki Eropanisasi dan kaum yang menolak Eropanisasi kerap kali terjadi pertentangan yang berujung pada perang saudara.

IMPERIALISME RUSIA

Imperialisme dari asal kata imperare, yang berarti memerintah atau menguasai. Jadi, di masa Dinasti Rurik, Rusia telah menjadi bangsa yang imperialis. Meskipun pada masa itu masih bersifat sangat sederhana. Ini berawal dari upaya dinasti Rurik untuk menguasai Novgorod dan memperluas daerahnya ke arah tenggara dan sekitar Kiev. Dari perluasan kekuasaan wilayah ke arah tenggara, Rusia bertemu dengan bangsa Mongol yang akhirnya terjadi peperangan yang dimenangkan oleh bangsa Mongol. Sebagian wilayah Rusia seperti Kiev, Sarai berhasil mereka kuasai sekitar abad ke 13.

Kondisi semacam itu menyebabkan Rusia, dinasti Rurik memperoleh pelajaran berharga yang menumbuhkan semangat untuk mengembalikan kejayaan yang sempat dimiliki oleh dinasti Rurik. Setelah berhasil menguasai kembali daerah yang sempat dikuasai bangsa Mongol, seperti Kiev dan Sarai, maka Rusia menjalin hubungan yang lebih erat dengan kekaisaran Byzantium. Bahkan Tsar meminang salah satu anggota keluarga dari kekaisaran Byzantium, Anna Paleolog. Tujuannya antara lain untuk mendapatkan daerah yang strategis, demi keuntungan ekonomi perdagangan, dan memperkuat kedudukan Rusia di bidang politik dan ekonomi di sekitar kawasan laut Tengah dan laut Hitam.

Setelah Byzantium dikalahkan oleh bangsa Turki, Rusia  mengaku sebagai ahli waris dari kekaisaran Byzantium. Sehingga Rusia dijadikan sebagai pusat peninggalan budaya dan agama Katolik Yunani. Setelah itu, muncul keinginan untuk menyebarkan agama dan budaya Byzantium. Dari sinilah, tumbuh semangat baru untuk melakukan perluasan wilayah ke sekitar daerah yang belum dikuasai oleh Rusia. Imperialisme Rusia juga tidak lepas dari faktor untuk memperoleh status yang sama dengan bangsa-bangsa di Eropa khususnya Eropa Barat yang dianggap lebih maju.

Berdasarkan hal tersebut, Rusia pada masa kekuasaan Dinasti Rurik telah menerapkan imperialism dalam bentuk penguasaan jalur-jalur perdagangan ekonomi, penguasaan pengaruh politik, dan perluasan agama yang menumbuhkan semangat kejayaan serta prestise dari warisan budaya Byzantium.



  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: