Beranda > SEJARAH > Pengantar Tentang Feodalisme

Pengantar Tentang Feodalisme

Feodalisme berasal dari kata feudum, yang berarti tanah. Ada yang menyebut feodalisme sebagai suatu modus produksi di mana kepenguasaan tanah yang luas yang dimiliki oleh kelompok aristokrat maupun bangsawan. Dalam penggunaan bahasa sehari-hari di Indonesia, feodalisme seringkali digunakan untuk merujuk pada perilaku-perilaku negatif yang mirip dengan perilaku para penguasa yang lalim, seperti ‘kolot’, ’selalu ingin dihormati’, atau ‘bertahan pada nilai-nilai lama yang sudah banyak ditinggalkan’. Menjadi, Feodalisme adalah sebuah sistem pemerintahan di mana seorang pemimpin, yang biasanya seorang bangsawan memiliki anak buah banyak yang juga masih dari kalangan bangsawan tetapi lebih rendah dan biasa disebut vazal. Para vazal ini wajib membayar upeti kepada tuan mereka. Sedangkan para vazal juga mempunyai anak buah dan abdi-abdi mereka sendiri yang memberi mereka upeti.
Dalam masyarakat feodal dikenal sistem sewa tanah. Sewa tanah yang dimaksud merupakan beban yang harus dibayar oleh petani penggarap atau buruh tani kepada tuan tanah feodal yang menguasai tanah tersebut, karena para petani mendapat “izin” untuk menggarapnya. Bentuk pembayaran beban tersebut bisa berwujud uang atau barang. Tuan tanah yang menentukan bentuk pembayarannya.
Untuk menaikkan sewa tanah, tuan tanah feodal memaksa petani untuk memikul biaya produksi pengolahan tanah (bibit, pupuk, pestisida, alat kerja pertanian). Di beberapa tempat karena mengakarnya sistem feodal lama, bahkan petani juga dibebani untuk memberikan pengabdian secara cuma-cuma kepada tuan tanah.
Pada awal kelahirannya, feodalisme ditopang oleh kedudukan militer yang kuat. Lalu sistem feodal ini termenjadi transformasi menuju sistem kerajaan yang melahirkan kelompok bangsawan baru, yang ditopang oleh panglima militer, dan dibantu oleh sekelompok ilmuwan dan agamawan yang memiliki tradisi Romawi. Beberapa abad kemudian, konsentrasi kepemilikan lahan semakin dikuasai oleh segelintir bangsawan saja.
Sistem feodal berkembang pesat di Eropa pada zaman pertengahan (medieval age). Sistem feodal dicirikan oleh lembaga-lembaga kelas bangsawan. Pada sistem feodal, terdapat tiga unsur penting yaitu lord atau tuan tanah, vassal, serta fief. Inti jantung kehidupan feodalisme kuno adalah di desa. Desa menmenjadi tempat berkembangnya unit sosial dan agama. Relasi produksi antara tuan tanah dan para petani yang menggarapnya menciptakan dua jenis bentuk petani, yaitu golongan servus, dan petani merdeka.
Krisis feodalisme mulai terlihat seiring pertumbuhan kota. Pemakaian mata uang semakin memperparah keberadaan feodalisme. Pemakaian mata uang dalam sistem ekonomi feodal termenjadi ketika pasar bahan makanan mulai mengalami kenaikan, dan pajak dari tuan tanah yang dahulu ringan menmenjadi berat. Kondisi inflasi ini menyebabkan para tuan tanah mulai mengalami kerugian. Ketika ekonomi uang mulai diperkenalkan, perlahan-lahan sistem ekonomi yang menopang feodalisme mengalami keruntuhan.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: