Arsip

Posts Tagged ‘penjara bastille’

REVOLUSI PERANCIS karya Paul Nicolle

23 November 2009 Tinggalkan komentar

Sebab-sebab Revolusi

Revolusi ini ditujukan terhadap “despotisme”. Revolusi berlangsung melawan hak-hak istimewa. Ia berkembang sebagai revolusi social. Revolusi terjadi karena adanya promotor-promotor, di mana orang yang mempunyai hak-hak istimewa yang tidak menyetujui peraturan-peraturan pajak colone. Bahkan kaum ningrat yang telah dikalahkan oleh Louis XIV tidak pernah dilucuti senjatanya, tidak hanya menjaga hak-hak istimewanya, tetapi di bawah raja yang lemah, mencari kesempatan kembali mencari pimpinan. Atas usaha mereka colone diberhentikan dan digantikan oleh Brienne.

Revolusi memang berlangsung melawan hak-hak istimewa. Ia berkembang sebagai revolusi sosial. Sebenarnya sikap dari golongan-golongan yang mempunyai hak-hak istimewa yang revolusioner ialah egoistis. Apa yang dikehendaki mereka adalah memperkuat kedudukan antar bangsa.

1.  sebab-sebab Politik

Louis XIV memusnahkan faham feodalisme dalam hal politik, membiarkan ia hidup dalam wilayah lain. Tidak ada satupun usaha untuk mengatur kerajaan, memberikan peraturan-peraturan yang sama bunyinya di seluruh kerajaan yang dapat mempersatukannya. Pemerintahan yang absolutisme satu-satunya pemerintahan yang bersifat sentralisasi sepenuhnya. Raja dibantu oleh satu dewan penasehat, mengeluarkan peraturan-peraturan dan memerintah. Kepala-kepala pemerintah menjalankan peraturan-peraturan tersebut. Tetapi pemusatan adalah tidak sama mempersatukan. Rakyat tundukpada undang-undang di mana kehendak raja tidak pernah ditentang dan penduduk menuruti perintah dengan seksama serta dengan tidak merasa dipaksa.

Ada dua daerah Perancis : yang satu dengan pemerintahan sendiri, dan yang kedua dengan pemerintahan yang diatur oleh pusat. Daerah-daerah ke satu adalah : Languedoc, Provence, Douphine, Bourgogne, dan Bretagne. Artinya daerah-daerah ini merupakan provinsi dengan perwakilan yang terdiri dari tiga golongan yaitu kaum agama, ningrat, dan kaum borjuis yang mempertahankan hak-hak dan kemerdekaan dari daerah terhadap wakil-wakil raja.

Masa pemerintahan Louis XV dan Louis XVI penuh dengan pertengkaran antara raja dan dewan perwakilan rakyat. Dewan ini membuktikan bahwa ia dapat melawan raja dengan tidak mendapat hukuman ; dengan jalan demikian dewan ini mengadakan pendidikan revolusioner untuk rakyat.

2. sebab-sebab Sosial

Kalau orang Perancis dipersatukan dalam melaksanakan perubahan yang dibutuhkan mengenai pemerintahan, maka revolusi ini hanya berjalan sebentar dan raja tetap terpelihara meskipun bukan semua kekuasaannya, setidak-tidaknya mahkotanya. Tetapi karena rakyat terbagi dua golongan social yang terpisah oleh jurang dalam pendirian mengenai perubahan yang sangat penting dan jelas, pertentangan timbul sehingga menimbulkan harapan sedikitpun untuk tercapainya persetujuan. Ada dua macam Perancis : 1. kaum yang berhak istimewa, 2. kaum yang tidak berhak istimewa.

Berikut adalah beberapa sifat dari Revolusi ialah:

  1. peristiwa-peristiwa dari dalam dan keadaan dari luar selalu berhubungan erat, sehingga sejarah masa ini berdasarkan reaksi-reaksi antara kedua peristiwa ini. Orang sering melupakan bahwa kejadian yang terpenting pada masa ini adalah perang. Ini dimulai dengan sewenang-wenang pada tanggal 20 April 1792 dan masih berlangsung pada 18 Brumaire, tujuh setengah tahun kemudian.
  2. untuk gambaran lengkap dari peristiwa poltik haruslah selalu menggandengkan ini dengan peristiwa yang bersifat ekonoms, karena inilah yang member corak pada keadaan politik. Keburukan pada tahun 1789 yaitu masalah panen menyebabkan kekeruhan rakyat yang dibalas oleh constituante dengan pengumuman undang-undang yang kejam pada 21 Oktober 1789. kurangnya penghasilan dan blockade menyebabkan gerakan-gerakan pada bulan pertama dari tahun 1793 dan menimbulkan salah satu dari soal-soal yang penting dari perselisihan antara partai-partai politik Gironde dan Montague.
  3. kepada penghidupan di bukota, terkait penghidupan di seluruh Perancis. Paris memegang peranan penting dalam revolusi. Paris-lah yang membuat tanggal-tanggal revolusioner. Daerah-daerah tidak pernah mengadakan inisiatif yang berarti. Pemberontakan di beberapa daerah disebut federalis.
  4. revolusi adalah buah usaha dari segolongan kecil. Pariset menyatakan dengan terang-terangan bahwa kaum revolusioner hanyalah merupakan golongan kecil di tengah-tengah rakyat yang bersikap masa bodoh atau yang bersikap bermusuhan.
  5. revolusi tidak berpangkal pada sebuah komplotan
  6. revolusi Perancis bukan merupakan sebah persatuan. Ia menunjukkan rentetan akibat-akibat atau di dalamnya mengandung deretan revolusi.
  7. revolusi adalah anti agama, tidak secara teratur melainkan hanya sebagai akibat keadaan. Individualisme berhubungan amat rapat dengan revolusi. Bila keadaan menghendaki kembali pada susunan kolektif, maka pemimpin-pemimpinnya akan melakukan dengan enggan, dan ketika keadaan membolehkan mereka mengembalikan hak-hak individu dengan lekas.

Bab 1. Perjangan Terakhir ari Kerajaan, 1788-1792

  1. Panggilan berkumpul bagi Parlemen

Pada tanggal 23 September 1788 Mahkamah Agung mengumumkan bahwa Parlemen akan disusun seperti pada tahun 1614. Guna menghapus hak-hak istimewa mengenai pajak, Necker perlu memperbanyak perwakilan kaum ketiga. Dewan Pembesar menyetujui bentuk tahun 1614 dan pada tanggal 12 Desember menyatakan kepada raja bahaya Revolusi, bilaia tidak dapat mempertahankan adat-kebiasaan yang lama.

Peraturan kerajaan dari tanggal 24 Januari 1789 menerapkan cara penganggilkan berkumpul bagi Parlemen.  Mereka harus dating di ibukota terpenting guna menyelenggarakan peraturan dan pemilihan langsung, ialah: 1. Dewan umum agama dari daerah, 2. Dewan umum kaum bangsawan. Kini semua pendeta menjadi pemilih.

Bagi golongan ketiga yang beranggotakan jauh lebih besar, berlaku sebuah peraturan dari bermacam-macam jenisnya. Hanya bagi 147 desa yang mempunyai perundingan sementara dalam bagian- bagian daerah, berlaku 4 macam cara. Daftar-daftar ini tertera dalam Peraturan kerajaan. Dengan sebuah “cahier” (daftar pemohon), mereka pergi ke daerah induk. Di sini mereka bersama-sama menyusun sebuah ikhtisar Cahier. ¼ dari mereka lalu dikirim ke kota distrik, dengan tugas menyusun Cahier dan emngangkat wakil-wakil dari golongan ketiga dari Dewan Pusat untuk Parlemen. Kaum ketiga yang hamper tidak memasukkan orang luar (Mirabeau, Sieyes) banyak memilih dari kalangan hukum.

Daftar permohonan (cahier) menunjukan bahwa semua golongan menghendaki perubahan-perubahan. Mereka menolak kekuasaan mutlak yang semena-mena, meminta UUD ayng membetasi kekuasaan raja dan yang memdirikan perwakilan Nasional.

  1. Hidup singkat dari Dewan Perwakilan Rakyat (5 Mei-25 Juni)

Pada tanggal 5 Mei, Dewan Perwakilan Rakyat bersidang di Versailles. Dalam Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan pemisahan- pemisahan antara ketiga golongan. Golongan ketiga tidak senang dan tersinggung perasaan karena terpaksa melalui pintu kecil masuk balai permusyawaratan, dan bahasa yang diwajibkan. Raja mengundang wakil-wakil dengan maksud mencari cara untuk mengisi kas negara, namun tidak menghasilkan apapun. Ini adalah suatu kekurangan yang tidak dapat dimaafkan dari pemerintah. Ini tampak adalah hasil keterlibatan orang-orang di sekeliling raja untuk kepentingan kaum istimewa.

Akhirnya pada tanggal 28 Mei, raja menyatakan agar diadakan usaha baru untuk mendamaikan kedua pihak, tetapi ini tidak berhasil. Maka golongan ketiga, setelah mengadakan undangan terakhir kepada golongan lainnya. Mereka mengesahkan sendiri kekuasaan-kekuasaan dari seluruh rakyat, dengan tiada membedakan golongan, melainkan menurut daftar daerah.

Pada tanggal 17 Juni yaitu setelah ajakan golongan ketiga berakhir, seorang wakil yan diilhami oleh Sieyes, mengajukan usul untuk member nama Dewan Nasional kepada pertemuan terebut. Le Chapelier dengan suara bulat merancang undangundang yang berisi: bila Dewan Nasional (assemble) dibubarkan, maka tiap pungutan pajak yang tidak mendapat persetujuan Dewan harus dihentikan.

Pada 20 Juni, bila gedung permusyarakatan tertutup, maka Dewan Nasional mengadakan di lapangan tenis. Sebanyak, 577 wakil melakukan sumpah. Pada tanggal 22 juni kaum agama dalam gereja St. Louis mengikuti jejak Dewan Nasional.

Tanggal 23 Juni siding kerajaan diadakan. Sesudah kata pembukaan dari raja, maka menteri kehakiman menyatakan bahwa segala kegiatan Dewan Nasional tidak ada artunya dan tidak sah. Kemudian kaum bangsawan dan sebagian dari kaum agama mengundurkan diri, namun Dewan Nasional tetap berdiri. Mereka bertekad untuk mempertahankan segala putusan yang telah diambil.

Pada tanggal 24 masuklah 151 pendeta ke dalam Dewan. Pada tanggal 25 diikuti oleh 47 orang bangsawan. Ketika pada tanggal 26 para bangsawan dan pendeta kelas elit menemui jalan buntu. Mereka memohon kepada raja agar diadakan perintah untuk mempersatukan diri dengan Dewan. Dengan demikian seluruh wakil bersatu kembali.

  1. Akhir dari Rezim Lama (Juli-Oktober)

Sesungguhnya kaum istimewa dan raja lebih erat dari masa lalu, mereka tidak dapat menerima kekalahan mereka dan mencoba mengajukan kembali segala persoalan yang ada. Sebaliknya Dewan berada dalam bahaya. Ini hanya tertolong dan kegiatannya terjamin dengan bantuan dari luar, yakni rakyat yang terlibat guna mendesak dan memaksa raja (14 Juli dan 6 Oktober).

Pada 11 Juli raja memecat Necker dan menggantinya dengan bangsawan Breteuil. Pada tanggal 12, kota Paris mengadakan demonstrasi, terutama dalam istana raja di mana Camille Desmoulins mengadakan pidato penjang lebar. Demonstran meminta gubernur penjara Bastille menyerahkan senjata. Tanggal 14 terjadi kekacauan. Penjara Bastille direbut oleh barisan sukarela rakyat, Pasukan sukarela Perancis dan pekerja dari luar kota Paris.

Jacquerie adalah hal yang nyata, di beberapa tempat para petani menyerang rumah-rumah tuan tanah guna memaksa mereka melepaskan pemerintahan lama. Serangan ditujukan kepada dokumen dan arsip. Banyak pula terjadi pertentangan dan perampokan terhadap tuan tanah yang melawan, pembakaran bahkan pembunuhan.

Pada 5 Oktober suatu barisan di muka balai kota, ribuan perempuan menuju Versailles untuk meminta roti. Hamper bersamaan, Garda Nasional berbaris menuju Versaille guna membalas dendam terhadap hinaan perihal lencana. Kemudian Assemblee menduduki istana Tuileries. Kali ini pemerintah lama telah mati.

  1. Undang-undang sipil untuk para pendeta

Pada tanggal 12 Juli 1790 Konstituante  mengesahkan pembaharuan tentabg undang-undang sipil untuk pendeta. Ini menyebabkan perpecahan antara pendeta dan para pengikutnya sera perpidahan dengan Paus.

Pada permulaan tahun 1791, hanya 7 dari 135 Biskp melakukan sumpah, sedang lainnya menunggu adanya penyelesaian dengan cara kompromi. Penggantian dari pendeta yang tidak bersumpahsedikit merepotkan, karena banyak dari mereka yang terpilih menolak tawaran tersebut. Namun hal ini sedikit diuntungkan karena jumlah Biskop berkurang menjadi 83, berdasarkan jumlah departemen Perancis.

Pada tanggal 7 Mei, Konstituante mengizinkan pendeta-pendeta yang tidak bersumpah dalam gedung-gedung umum. Ada beberapa pihak dari kalangan agama harus diadakan persetujuan dalam pemakaian gedung-gedung gereja. Ini menimbulkan keributan di muka pintu gereja. Untuk menghindari kekacauan ini cujuplah Paus Pius VI mengesahkan undang-undang sipil yang mana sangat diharapkan oleh para Bishop. Tetapi duta raja di Vatikan berusaha menghalangi adanya persetujuan ini.

  1. Pelarian raja

Pelarian raja menyebabkan jatuhnya kerajaan. Tindakan yang tidak terduga ini, telah direncanakan sejak musim gugur 1790. Dengan perantaraan Breteuil, Louis berunding dengan raja-raja untuk mengembalikan kekuasaannya dengan memberitahukan kepada mereka bahwa tentara Perancis di perbatasan barat laut Perancis akan menggabungkan diri dengan pasukan Austria di Belgia.

Sesuai rencana, keluarga raja meninggalkan istana Tuileries melalui pintu yang tidak dijaga. Mereka kemudian naik kereta menuju luar Perancis. Namun usaha mereka gagal ketika mendekati Varennes, raja dan keluarga berhasil ditahan atas inisiatif Drouet yang mengenali raja.

Surat permohonan dan manifestaso menunjukkan adanya semangat anti raja. Assemblee sesudah upaya pelarian raja, mengambil kepustusan-keputusan yang berguna sehingga dalam masa ini Perancis dikatakan diperintah tanpa raja. Sesudah 10 Agustus 1792, bentuk Republik dengan segera menjelma di Perancis.

Pada tanggal 17 Juli, putusan yang dianggap menguntungkap pihak raja, telah membawa akibat: kaum Cordeliers mengajak rakyat menandatangani di atas kertas dengan sebuah desakan untuk membubarkan kerajaan dan membentuk Republik. Konstituante dengan cepat  mengundang walikota, Bailly dan komandan Garda Nasional, Lafayette, untuk mengembalikan keamanan dengan menggunakan undang-undang militer.

Akan halnya raja, dengan tiada menjatuhkan raja, ia bersumpah setia kepada konstitusi pada tanggal 14 September. Tetapi tanggal 30 September, konstotuante dibubarkan dan tidak ada satupun daru anggotanya dipilih kembali untuk Assemblee berikutnya.

  1. Perang

Penahanan di Varennes membimbangkan raja-raja asing. Walaupun mereka menyatakan, bahwa pengembalian keamanan di Perancis adalah untuk kepentingan Eropa. Pernyataan tersebut ditandatangani oleh kaisar dari raja Prusia, pada tanggal 27 Agustus di Pilnitz, tidak memperlihatkan maksud akan melakukan agresi. Sementara, pangeran-pangeran Perancis dan orang-orang yang telah mengungsi beranggapan bahwa ini berarti aka nada percampuran tangan dari pihak luar terhadap Perancis.

Raja menjatuhkan veto pada dekrit-dekrit terhadap kaum  pengungsi dan kaum pendeta. Ini menyebabkan kemarahan rakyat kepada raja dan raja didakwa telah bersekutu dengan musuh. Tetapi raja memanggil saudaranya kembali dan pada tanggal 14 Desember menyatajab dalam Assemblee, bahwa ia telah mengirimkan pesan kepada raja Trier bahwa raja Trier akan dianggap musuh apabila hingga pada tanggal 15 Januari kaum pengungsi tidak dicerai-beraikan.

  1. Tanah air dalam bahaya

Situasi politik dalam negeri yang tidak segera teratasi menyebabkan sering terjadi kekacauan antara kelompok-kelompok di Perancis. Kondisi ini bertambah genting setelah adanya ancaman dari luar yang berusaha hendak turut campur dalam permasalahan dalam negeri Perancis. Dalam situasi yang genting, sebuah manifest dari Brunswick, yang isinya mengajak orang-orang Perancis jagan mempertahankan negeri, dan menganccam terutama paris dengan hukuman militer dan pembasmmian bila berani mengganggu diri raja. Dalam ultimatum yang ditujukan kepada Legislatif, disebut sebagai hari terakhir untuk menyetujui tindakan-tindakan yang diusulkan tadi hingga tanggal 9 Agustus.

Kedatangan komisaris dib alai kota, di mana dibentuk Dewan Kotapraja Revolusioner sebagai pengganti yang sah; pembunuhan mandate yang mengatur pertahanan istana Tuileries, pelarian raja ke dalam Legislatif; ketidaksetiaan dari sebagian barisan pengawal istana; pertahanan penuh dari pasukan Swiss dan kaum bangsawan terhadap barisan sukarela dan kaum pemberontak dari pinggiran kota, telah menimbulkan pertempuran sengit dengan menggunakan meriam.

Dalam Assemblee, legislative tidak dapat menyetujui kehendak untuk memecat raja. Ia hanya memerintahkan agar raja untuk sementara waktu dinonaktifkan, dan mencari alas an gua memberekan masalah raj sesuai dengan UUD. Raja telah dikalahkan, dia dan Lafayette, terpaksa melarikan diri keluar negeri pada tanggal 19 Agustus.


Bab 2. Pemerintahan Revolusioner (10 Agustus1772-27 Juli 1774)

Pada malam 10 Agustus 1772, badan Legilatif telah mengumumkan tindakan  kepada penghapusan UUD. Convention mendapat perintah menyusun UUD baru, yang pelaksanaannya akan menghapuskan pemerintah sementara. Kemudian Convention akan dibubarkan dan diganti oleh Badan Pembentuk undang-undang Kedua. Setelah terbentuk, orang akan tetap berada di bawah pemerintah sementara dan akan berusaha mengakuinya secara sah. Dengan demikian negari mendapati sebuah pemerintahan revolusioner. Pemerintahan ini kelak akan dijatuhkan oleh peristiwa Thermidor (27 Juli 1794).

Pada masa ini, dapat dibagi dalam 5 tingkat, yakni:

  1. Berakhirnya legislatif (11 Agustus-21 September 1792).

Berdiri Commune (gerakan rakyat), bersifat illegal, tetapi menjadi legal karena kemenangannya. Sesungguhnya partai ini mengambil tindakan dengan cepat, dengan memasukkan Raja dalam penjara Rumah; kemudian bermaksud mengurus nasib musuhnya yang lain, memerintahkan kepada Komite Penjagaan untuk menahan orang-orang yang divurigai membantu pemberontakan kaum monarki (pengikut raja) pada 10 Agustus, dan mengadakan undang-undang untuk membuang pendeta yang menentang ke luar negeri.

Dewan pekerja memberi kekuasaan kepada komisaris-komisaris Commune guna ikut serta dalam pertahanan nasional. Mereka telah meyakinkan orang-orang propinsi, bahwa  Commune yng terkenal itu bukanlah suatu cerita: kaum borjuis mengalami kekalahan, dan kepada rakyat telah disebarkan benih-benih yang kelak menghancurkan usaha kaum federal. Pengerahan tentara, pelarian pendeta, pemilihan ini telah menimbulkan kegelisahan. Marat dalam suratnya melukiskan dengan sederhana apa yang dapat dikerjakan oleh pengadilan rakyat. Pikiran sebagian besar rakyat, dan barisan-barisan sukarela, lebih-lebih dari daerah Orne yang pergi ke garis depan, telah menghukum musuh-musuh rakyat.

Pada 2 September orang-orang memasuki penjara-penjara di Paris, mendirikan pengadilan tiruan, mengadakan keputusan pembebasan. Tetapi cara mereka menjalankan hukuman dengan keji sehingga keadaan ini mencemarkan revolusi. Dalam peristiwa September mempunyai pertanyaan atas siapa yang harus bertanggung jawab. Febre d’Eglantine, waktu itu sekertaris Danton, telah membubuhi tanda tangan pad peket surat kiriman tersebut yang dengan demikian dikirim bebasa dari pajak bea. Orang ini semua merupakan pemimpin sesungguhnya dari pembunuhan September tersebut. Pangeran Chartres, kemudian Louis Philippe I, raja Perancis, menegaskan bahwa sesudah pertempuran Valmy, ia menerima pengakuan sesungguhnya dari Danton. Namun tidak ada bukti kuat bahwa pembunuhan tersebut adalah tindakan dati Danton sebagai menteri kehakiman.

Untuk masalah keamanan umum, walikota Paris dan menteri dalam negeri sangat memberi andil besar. Walikota ,Petion adalah seorang Gironde, ia menyetujui tindakan-tindakan ketika itu. Menteri dalam negeri adalah Roland dengan samar-samar menyatakan kekcewaannya akan kematian beberapa orang, yang mulanya masih dianggap pantas.

  1. Perjuangan antara Gironde dan Montagne (21 September 1792-10 Agustus 1793).

Setelah para wakil yang menyetujui  adanya penghapusan kerajaan, mereka terpecah-pecah ketika membahas masalah pembangunan. Perselisihan antara kedua partai selama 8 bulan selanjutnya akan memperebutkan suara terbanyak, yakni antara kaum Gironde dan kaum Montagne. Sebab-sebab perselisihan: pergeseran masa lalu, persoalan individu, peranan kota Paris, personal-jawaban megenai UUD dan hak-hak pemilik.

  1. Peristiwa 10 Agustus yang mereka coba halangi, kaum Gironde menerima dengan keengganan karena mereka yakin bahwa orang yang menimbulkannya tidak akan membiarkannya sampai di situ. Kaum montagne yang bangga akan kemenangan menganggap kejadian 10 Agustus sebagai pekerjaan mereka, mereka bersikap memihak republik karena kebencian terhadap kerajaan yang mereka jatuhkan.
  2. Rakyat Kota Paris menyetujui peristiwa 2 september yang dianggap sebagai akibat dari kejadian 10 Agustus. Peristiwa ini menjengkelkan kaum Gironde, mereka mengutuk kejadian 2 September dan membenci rakyat Paris. Mereka mengkritik departemen yang terus-menerus memberi makan kepada kota besar, yang tidak mempunyai sumber penghasilan sendiri, dan mereka menuduh bahwa pemerintah kota menghabiskan uang negara. Sebaliknya, kaum Montagne berkehendak agar paris tetap menjadi pusat dari gerakan revolusioner. Kaum Commune dan Montagne mempersatukan diri guna melakukan tindakan-tindakan yang wajib diturut oleh semua, guna menyelamatkan rakyat dari bahaya.
  3. Kaum Gironde mempunyai alasan baru. Meskipun tidak dapat menyelamatkan UUD tahun 1791, mereka telah melakukan dengan cerdik sebagai ahli hokum fasal-fasal terakhir yang berhubungan dengan Lois XVI. Sebagai dewn pembentuk undang-undang baru maka Convention berkewajiban dngan perundingan, menyusun UUD baru. Tindakan cepat yang dilakukan ialah pertama-tama harus dijamin hasil perebitan yang baru di dapat dan merupakan warisan umum dari kaum revolusioner. Inilah kewajiban, dan inilah kepentingan umum.
  4. Gironde adalah partai kaum tuan tanah. Menurut mereka hak dari pemilik tidak dapat diganggu. Hasil panen memberi hak mutlak bagi pemiliknya hendak dijual kepada siapa, dengan harga berapa, atau untuk disimpan adalah menjadi kehendak pemiliknya. Namun dalam kondisi di masa sulit seperti perang, kondisi ini tidak banyak membantu. Hak-hak hidup bertentangan dengan hak pemilik, dan hak hidup ini adalah lebih penting. Bahan-bahan hidup harus dibagi-bagi; pemilik hasil panen hanya diperbolehkan mendapatkan sebagian dan selebihnya harus diserahkan dengan harga yang telah ditetapkan yang menjamin untung yang selayaknya. Selanjutnya dengan demikian telah terjadi perselisihan yang sengit antar kedua partai. Gironde telah menuduh bahwa: Commune, Marat, pembunuh-pembunuh bulan Septmber, Robespierre adalah objek dari serangan mereka, dan perdebatan dalam gedung legislative (Assemble) menunjukan dengan jelas kemengan mereka. Akan tetapi keadaan berbalik hal tersebut telah memperkuat dukungan terhadap kaum Montagne. Permasalahan raja menjadi bahan penting dalam perselisihan.

Pada tanggal 16 Oktober Komisi memberikan laporan kepada Komisi Pembentuk Undang-undang, berisi usul cara untuk petunjuk pengadaan satu proses pengambilan keputusan. Dengan terpaksa Valaze menjelaskan laporan dari komisi 24 yang diserahkannya pada 6 Nopember. Esok harinya Mailhe menegaskan bahwa UUD 1791 tidak berlaku, dan karena itu tidak dapat menjamin lagi kesulitan raja. Selanjutnya pada 3 Januari 1793, Gasparin yang membeberkan penyalahgunaan dari permulaan Agustus 1792, dengan perantaraan Boze berhubungan pada satu pihak dengan raja dan pada lain pihak dengan Vergniaud, Guadet dan Gennose; para terdakwa ini yang hadir, tidak berani memungkiri; dengan demikian terlihatlah tingkah laku dari ketiga orang besar Gironde yang menamakan dirinya republikein tetpi pada tanggal 10 Agustus masih hendak menyelamatkan kerajaan. Sejak hari itu orang mulai mengadakan putusan hukuman. Kemudian diadakan 3 pertanyaan:

  1. apakah Louis bersalah?
  2. Haruskah putusan hukuman diserahkan kepada rakyat untuk mendapatkan pengesahan?
  3. Hukuman apa yang pantas diberikan kepada Louis?
  4. Haruskah ia mendapat penundaan hukuman?

Putusan hukuman mati dari Louis XVI berarti kekalahan hebat dati kaum Gironde yang hendak menyelamatkannya: Roland dengan segera mengajukan permohonan berhenti. Selanjutnya pada 31 Mei gedung Perwakilan dikepung oleh gerombolan bersenjata dari bermacam-macam seksi; mereka mendesak diasingkannya kaum Gironde terutama dari perundingan-perundingan.

Pada 2 Juni terjadi tindakan kekerasan anti-parlementer yang tak mengeluakan pertumpahan darah, merupakan sebuah dari kejadian yang penting; kaum Gironde dikalahkan sama sekali dan dengan mereka borjuis yang mereka wakili; pihak yang kalah tetap mengadakan perlawanan. UUD dari tahun 1793 yang bersifat republik dan demokrasi, sesuai  dengan kehendak  massa mempercepat berkumpulnya mereka di sekeliling Convention, yang ingin melindungi pemeerintah sekarang.

Akan halnya kaum pemenang, UUD mereka mendapat persetujuan rakyt Perancis; 10 Agustus 1793, mereka mengundang wakil-wakil dari legislative pertama, yang datang ke Paris dengan biaya negara, guna menyatakan persetujuan dengan UUD. Perundingan yang bersifat damai membuktikan adanya persatuan nasional di sekitar Dewan Perwakilan, sebagai suatu symbol persatuan yang diperlukan karena adanya bahaya.

  1. Kemenangan Montagne.

Tindakan yang dilakukan dengan jitu, menimbulkan kepercayaan terhadap tepatnya tindakan yang direncanakan. Hal ini menerangkan mengapa terjadi undang-undang dari 14 Frimaire th II (4 Desember 1793) yang mewujudkan bentuk, peralatan dan susunan teratur pada pemerintahan revolusioner; undang-undang ini yang dasarnya ditetapkan pada 10 Oktober adalah pegangan yang nyata bagi pemerintah di mana setiap pemimpin menyadari akan sifatnya  yang sementara.

Dewan perwakilan yang muncul karena kedaulatan rakyat, mempersatukan sekalian kekuasaan. Konstituante tetap ada; tetapi sebagai pembentuk undang-undang, ia setiap hari berada di bawah pengaruh keadaan. Ketika itu ada 2 komite pemerintahan: Komite Keselamatan Umum dan Komite Keamanan Umum. Pelaksanaan undang-undang revolusioner adalah kewajiban dari pemerinth setempat, yang pada tahun 1790 dibentuk  di departemen-departemen, distrik-distrik dan kotapraja; dan dari komisi pemeriksa yang dibentuk menurut dekrit 21 Maret 1793. Sebagai tindakan pembalasan terhadap para pembesar dari departemen yang ikut serta dalam gerakan federal, maka kekuasaan mereka dibatasi. Sebaliknya dewan distrik dan kotapraja menjadi tetap, dan mendapat perluasan kekuasaan di bawah pengawasan agen nasional yang ditunjuk oleh pemerintah pusat.

  1. Komplotan dari partai-partai.

Robespierre yang masuk  Kmisi Keselamatan Umum sesudah Danton dilenyapkan dan Marat dibunuh, berkuasa mendirikan sebuah dictator. Ia mendapat perlawanan dari sayap kiri, Herbert yang menamakan diri sebagai ahli waris dari marat dan yang hendak memperhebat terror, dan dari sayap kanan, Danton yang lemah, karena alas an perikemanusiaan ingin menghentikan terror. Kemudian Komite Robespierre lambat laun menguasai pemerintah, maka ia berusaha mempertahankan diri sebagai yang berkuasa ketika ia diserang.

Pada musim dingin, Komite Keamanan dan Keselamatan berkumpul, karena didorong oleh suatu tekad, merupakan pemerintah yang sungguh-sungguh. Namun secara tidak langsung pemerintah mengalami serangan dari Danton. Ia bertindak dengan hati-hati dengan menyembunyikan maksudnya. Awalnya ia keluar dari Komite, kemudian diminta bergabung dengan rekan-rekan yang mencurigainya.

Untuk mempersatukan massa kaum Jembel, Robespierre berhasil meloloskan undang-undang ventose, di mana menghapuskan hak milik dari orang-orang terdakwa yang ditahan dan dibagikan kepada penduduk miskin, yang berarti pemindahan milik secara besar-besaran. Oleh karena itu kaum Hebert mengacaukan anggapan umum akibat adanya kekurangan bahan makanan.

Sesudah Robespierre mengatasi masalah, Danton ditangkap. Kemudian ia diseret ke meja pengadilan. Selam proses berjalan, Komite meminta kepada Convention dekrit, yang mengizinkan Pengadilan menjatuhkan putusab dengan tiada banyak perdebatan. Setelah disetujui dengan suara bulat, pada tanggal 5 April para terdakwa menjalani hukuman Guillotine (penggalan kepala). Dewan Perwakilan dari Thermidor yang kelak mengembalikan kehormatan dari anggota-anggota yang tidak dihukum, tidak melakukan ini terhadap Danton, Delacroix dan orang-orang bersangkutan dalam soal Kompeni India Timur.

  1. 5. Pembubaran tenaga-tenaga revolusioner.

Karena Komite telah menang, kewajibannya menjadi lebih mudah. Dengan tiada perlawanan, mereka menindas tentara revolusione dari Ronsin, dan kemudian Dewan Pekerja seperti para menteri. Pada 27 Germinal dan 19 Floreal Dewan perwakilan mengeluarkan dekrit menurut laporan-laporan dari Saint Just dan Couthon, yang menyatakan bahwa semua komplotan dari negar Perancis untuk putusan hukuman akan dibawa ke muka pengadilan Revolusioner dan kekuasaan istimewa menghukum yang dijalankan di propinsi oleh wakil-wakil, harus dilenyapkan. Karena itu, terror di Paris semakin hebat.

Atas usul Couthon, Dewan Perwakilan pada tanggal 10 Juni mengumumkan undang-undang memperbaharui pengadilan Revolusioner, yang dihapuskan oleh dekrit dari 27 Germinal dan 19 Floreal; guna mempercepat pengadilan, tiada dilakukan pembelaan, tiada daksi, tiada dilakukan pendengaran: bukti-bukti moril digunakan sebagai tambahan dan sebagai pengganti bukti-bukti materi; arti musuh tanah air diperluas, inilah pembaharuan yang menggemparkan.

Meskipun Komite Keamanan Umum lebih tua dari Komite Keselamatan Umum, ia melihat yang kemudian bertambah besar kekuasaannya berhubung dengan September 1793, yakni keselamatan umumlah yang membersihkan keamanan umum.

Tak dapat disangksikan, kesalahan ada pada Roberspierre, akan tetapi hal ini pada Thermidor Barere mempermasalahkannya dan tiada pada waktunya, dengan tiba-tiba memutuskan perhubungan dengan Komite Keselamatan Umum. Pada 13 Messidor, 5 hari setelah kemenangan di Fleurus, ia menyatakan kepada perkumpulan Jacobin, tempat ia berlindung, ia benci terhadap sikap teman-temannya dalam soal Chatherine Theot: lebih-lebih ia kecewa bahwa teman-teman tersebutlah yang menolak Undang-undang Ventose.

Pada tanggal 9, Tallien mulai menyerang dengan dakwaan Robespierre sebagai tiran; Billaud memperkuat hal ini. Louchet dan Lozeau, wakil-wakil yang mempunyai  nama buruk, akhirnya mengusulkan penangkapan dan pendakwaan terhadap yang berkuasa. Adik Robespierre dan Lebas secara jantan menyatakan keinginan mereka ikut mengalami nasibnya. Daftar ini dibubuhkan 2 anggota lain dari kekuasaan tiga orang, yakni Couthon dan Saint_Just dan selanjutnya Dumas, presiden dari pengadilan Revolusioner, Komandan Garda Nasional.

Hanriot dengan terlalu tergesa-gesa pergi ke Komite Keamanan Umum guna membebaskan Robespierre. Usahanya gagal dan bahkan ia ditangkap. Meskipun demikian, pemberontakan terus berlangsung dan kaum Jacobin mempersatukan diri dengan Commune. Selanjutnya, pada tanggal 10 pagi dini hari, Convention mulai mengadakan serangan. Hanya dengan sedikit barisan, Leonard Bourdon, keributan dan tembak-menembak terjadi. Lebas melakukan aksi bunuh diri, adik Robespierre melompat dari jendela.

 

Bab 3. Revolusi Merosot (28 Juli 1794-9 Nopember 1799)

Masa ini bersifat merosotnya kaum politikus, kaum borjuis yang tidak mampu mengembalikan keamanan dalam negeri dan perdamaian dengan luar negeri. Pada masa ini terdiri atas 3 tingkat:

  1. reaksi gerakan Thermiodor (Juli 1794-Juni 1795), berupa reaksi terhadap orang-orang dan lembaga dari tahun ke II revolusi.
  1. Serangan dari kaum Royalis (pengikut Raja), dengan mencontoh kaum revolusioner mereka memberanikan diri mengadakan pemberontakan di Paris pada 13 Vendemieaire. Ketika usahanya gagal, mereka menutupinya dengan jalan sah untuk mencapai kekuasaan: pemilihan pada tahun ke V adalah suatu kemenangan bagi kaum loyalis.
  2. Kecondonga pada pemujaan orang kuat, September 1797-Nopember 1799. Sebagai lawan dari kaum loyalis, pemerintah inipun adalah lawan dari kaum Jacobin. Kesalahan mereka dalam politik luar negeri mendekatkan tanah air dalam keadaan bahaya karena pembentukan koalisi kedua pada musim bunga tahun 1799. Tinggal saja bagi Bonaparte untuk kemunculannya yang diharapkan oleh seorang pemerintah, Sieyes, yang muncul pada permulaan Revolusi dan hadir pada 18 Brumaire guna menyusun akte penutup dari Revolusi.
  1. 1. Reaksi terhadap Thermidor (Juli 1794-Juni 1795)

Dalam ini Rakyat Perancis mengalami lagi bagian terbesar dari kejadian-kejadian sejak 10 Agustus, hanya saja arahnya terbalik. Pemenang terhadap Robespierre adalah mereka  dari Komite-komite dan wakil-wakil yang meneledorkan kewajiban mereka yang dimintanya memberikan tanggung jawab terhadap tugas-tugas mereka. Semuanya orang-orang Montagne. Hasilnya ialah:terhadap kaum Montagne yang berkurang tiga kali, maka mereka semakin yakin, bahwa sejak itu mereka satu-satunya yang dapat membentuk suara terbanyak dan suatu partai yang mampu menyodorkan politiknya. Dari bagian-bagian pemerintah tahun ke-II mereka hanya mempertahankan apa yang dapat digunakan mereka terhadap lawan: pemerintah revolusioner dikurangkan dari anggota-anggotanya satu persatu. Sebaliknya bentuk pemerintahan republic tidak menjadi bahan persoalan, karena kaum Thermidor, kecuali beberapa orang, bukanlah pengikut raja. Pada 10 April 1795 Kaum Thermidor mengeluarkan dekrit untuk mmelucuti senjata kaum teroris. Tahanan daari tahun ke II yang dibebaskan, akan mengadukan bekas-hakim mereka pada tahun ke III.

Tindakan  reaktif yang penting terhadap mereka:

  1. Proses-proses terhadap Carrier, Lebon, dan Fouquier-Tinville.
  2. Serangan terhadap komite-komite.
  3. Pembersihan Convention oleh dirinya sendiri.
  4. Proses terhadap kaum Montagne yang terakhir.

Reaksi-reaksi terhadap badan-badan mencapai maksudnya: 1). Komite-komite pemerintah; 2). Pengadilan Revolusioner; 3). Jumlah Komite-Komite Penjagaan diturunkan pada 24 Agustus 1794 menjadi satu persatu distrik dan pada 19 Pebruari 1795 dihapuskan pada ibukota distrik-distrik.

  1. 2. Serangan dari kaum royalis (Juni 1795- September 1797)

Pangeran Provence yang menjadi Louis VIII, pada tanggal 24 Juni mengumumkan sebuah manifest, dengan janji bahwa ia akan menghukum pembunuh raja, dan akan mengembalikan adanya ke 3 golongan dari zaman lama dan pemerintahan kerajaan lama.

UUD yang telah disahkan menentang baik demokrasi maupun diktator. ia menghapuskan hak pemilihan umum dengan memberikan kesempatan pada pemilihan pertama semata-mata kepada pembayar pajak, dan member kedudukan tinggi kepada pemilih. Pemungutan suara yang terbukti oleh banyaknya yang tidak ikut serta memberikan suara, memberikan kemenangan bagi UUD. Tetapi walaupun mendapata suara terbanyak, dekrit mengenai persediaan tempat 2/3 terebut dan untuk mana belum diadakan pemungutan suara rakkyat, hanyalah mendapat persetujuan suara amat sedikit.

Sejak Hoche di sebelah mengembalikan keamanan (Juni 1796), kaum loyalis tiada lagi ikut berperang, melainkan mepersiap-siapkan diri Louis XVIII. Inggris membantu mereka dengan uang. Selanjutnya mereka mendapat bantuan dari kaum Clichy, dari orang wakil yang dipilih pada tahun 1795 untuk sepertiga tempat diperwakilkan dan dari banyak pendeta dan kaum pengungsi yang telah kembali, yang dipercepat untuk sementara waktu oleh pemerintahan yang bersangkutan. Pemilihan pada April 1797 merupakan anggota Convention yang berhenti dan merupakan kemenangan besar bagi kaum loyalis.

Perebutan kekuasaan pada 4 September tiada berjalan dengan menumpahkan darah: Carnot disuruh pergi, Barthelemy ditahan, karena tak mau meminta berhenti; kepada beberapa wakil dilakukan penahanan di rumah.wakil-wakil lain yang dengan segera bersedia menyetujui undang-undang Fructidor mengesahkan perebutan kekuasaan. 53 wakil dan 12 orang dijatuhi hukuman pengasingan.

  1. 3. Kecondongan ke arah Pemujaan orang kuat.

Rakyat sedikit menghargai pemmerintahan Fructidor yang melangkah tidak pada tempatnya. Pemerintah tidak dinyatakan terima kasih terhadap perjanjian Campo Formio (17 Oktober 1797), karena hal ini adalah hasil perundingan Bonaparte sendiri. Sebaliknya Ditectoire dipersalahkan memutuskan perundingan di Lille dengan Inggris. Dalam hal ini, seharusnya Inggris diserang. Tetapi Bonaparte menolak rencana untuk pendaratan di Inggris dan dengan persetujuan Talleyrand, sebagai penggantinya, ia mengadakan ekspedisi ke Mesir.

Pemilihan pada April 1799 berlangsunng dalam keadaan buruk bagi kaum Republik dari Directoire. Pihak kanan ingin mengadakan perobahan pada UUD. Hasil pemenang pemilihan berpindah kepada kedua partai oposisi yang saling mengadakan persekutuan.Terjadilah krisis yang digunakan sebaik-baiknya oleh kedua balai. Mereka meminta keterangan dari Directoire terhadap politik luar dan dalam negeri dan menghapuskan pemilihan yang dilakukan setahun lalu dari Directour Treilhard yang tak sah. Menurut UUD Treilhard diganti oleh Gohier.

Timbulnya Bonaparte tidak dengan mendadak. Pemimpin besar lainnya telah mati, Bonaparte jauh dari pusat dan sikapnya yang kurang menghargai instruksi dari Directoire bahkan meningkatkan bagi kedudukannya. Bonaparte mengangkat sumpah di muka Senat, memberikan perintah dan berpidato di muka tentaranya: kepada saudara-saudara telah saya tinggalkan damai, dan kini saya ketemukan kembali perang. …kepada saudara-saudara saya tinggalkan kemenangan-kemenangan, dan kini musuh mendesak perbatasan negeri saudara-saudara…”.

Di seluruhkan kota ditempelkan semboyan-semboyan: Bonaparte akan menyelamatkan Republik. Di mana-mana timbul suatu ketenangan, ketengangan karena tikap masa bodoh. Talleyrand, yang termasuk dalam komplotan, meminta surat pemecatannya dari Barras. …Sleyes dan Ducon mengajak Gohier dan Moulin mengikuti jejak tersebut. Kedatangan Bonaparte di Dewan 500 menimbulkan peledakan kemarahan: “Enyahlah dengan Diktator! Tempatkan ia di luar undang-undang! Kita bersedia mati di tempat kewajiban kita! Hidup UUD! Hidup Republik! Bonaparte tiada bisa berbicara lagi.

Akibat dari keadaan ini belum dapat dibayangkan oleh siapapun juga. Luar negeri beranggapan bahwa keadaan di Perancis, semakin menjadi sulit. Tetapi konsul-konsul sementara pada proklamasi mereka yang pertama pada esoknya menyatakan dengan tegas keadaannya: “Revolusi telah diletakkan pada dasar-dasar yang menyebabkan ia dimulai: ia kini berakhir.

 

Kesimpulan

Revolusi Perancis dirjkan kepada kaum despotism, kepada hak-hak istimewa atas nama kemerdekaan dan persamaan. Ini adaah suatu peristiwa penting dalam sejarah dunia. Revolusi terjadi di Perancis, karena di sana despotisme lebih dirusak oleh pengikutnya sendiri, yakni kaum bangsawan.

Kaum Gironde yang menyerukan propaganda mereka di luar negeri; perabng menentang despotisme dan istana! Damai bagi gubuk- gubuk!, maka mereka keliru menggunakan tenaga serangannya, keliru menghitung kekuatan pertahana musuh dan keliru dalam tingkatan pengertian rakyat yang diajak mengikuti mereka.

Revolusi telah menguasai dunia, walaupun diadakan persekutuan-persekutuan dan percampuran tangan terhadap Revolusi, pemerintah despotism satu-persatu lenyap. Ini terbukti UUD semakin banyak, kerajaan otoriter lenyap, rakyat yang tertindas mencapai kemerdekaannya dan mempersatukan diri menjadi bangsa-bangsa.

Revolusi, buah pikiran dari kaum borjuis, member keuntungan bagi kaum ini. Mereka berhasil mendapat sambutan baik dan kehormatan dari rakyat. Mereka menduduki tempat kaum bangsawan yang dikalahkan. Namun akhirnya oleh kaum Thermidor mengembalikan posisi kaum Borjuis pada tempatnya. Kaum Thermidor pada tahyn 1791 banyak yang mengajukan diri sebagai sukarelawan untuk membela tanah air terhadap musuh yang ingin mengembalikan pemerintahan lama. Tahun 1793 mereka memberontak terhadap kaum Montagne yang menurut anggapannya membahayakan hak milik.

Sedikit disesalkan bahwa revolusi hanya memberikan keuntungan kepada satu kelas yang sangat berjasa, tanpa memberikan porsi yang lebih banyak kepada bawah. Hanya kaum petani dari kalangan bawah yang diuntungkan dengan dihapuskannya pemerintahan feudal. Kaum buruh yang tidak mendapat hak untuk berserikat tidak dapat mempertahankan upahnya menurut undang-undang. Tetapi revolusi yang dianggap telah gagal itu telah menaburkan benih-benih dalam pikiran dan ingatan dari generasi-generasi yang kelak akan muncul.

Revolusi tersebut mempunyai banyak peristiwa yang dahsyat. Mereka mendatangkan despotism yang merupakan bahaya bagi kemerdekaan. Ini menjanjikan persamaan, maka dibiarkan satu kelas hidup di atas lainnya, di mana kelas baru mendapat hak-hak istimewa tersebut berusaha untuk menghalangi-halangi kelas yang dijajahnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.